Ilmu Pengetahuan Sosial By Asep Totoh,SE

Kahatur sadaya siswa SMP Pasundan & SMK Bakti Nusantara 666…Kita Pasti Bisa

Hakikat Shaum

Menguak Hakikat Shaum

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita telah memasuki bulan Ramadhan.  Alhamdulillah kita diberi kesempatan oleh Allah SWT kembali beribadah di bulan penuh berkah ini.  Sudah sepantasnya kita bersyukur dengan mengoptimalkan ibadah selama sebulan penuh, baik shaum Ramadhan sebagai ibadah utama, maupun qiyamul lail dan ibadah lainnya sebagai penunjang.

Namun sayang seribu kali sayang, tidak jarang kesempatan emas ini melayang.  Tidak sedikit di antara kita yang lengah hingga tak mampu memetik banyak pahala dan kebajikan di bulan panen pahala ini.  Tidak sedikit di antara kita yang berada di garis minimal, tinggal melaksanakan puasa dan sholat tarawih saja.  Bahkan tidak sedikit di antara kita yang berada di titik nol, yakni puasa dan tarawih pun sia-sia.  Rasulullah saw. pernah mensinyalir orang-orang seperti itu dalam sabdanya:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.

Na’udzu billahi min dzalik!

Tentu kita tidak ingin ditinggal bulan Ramadhan tahun ini dalam keadaan papa dan rugi sama sekali.

Lalu bagaimana agar shaum kita berhasil mengantarkan kita kepada target, yakni menjadi orang yang bertaqwa?  Bagaimana agar shaum kita bernas dan bermutu?  Maka satu langkah awal yang perlu kita tempuh adalah menyadari dan memahami hakikat shaum?

Hakikat Shaum sebagai bagian dari Ibadah

Islam mengajarkan kepada kita bahwa tiadalah tujuan Allah Sang Pencipta ini menciptakan kita selain agar kita beribadah hanya kepada-Nya.  Dia SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Ad Dzariyat 56).

Ibadah secara bahasa artinya taat. Dalam konteks hukum syariat Islam, ibadah adalah  aktivitas hubungan manusia sebagai hamba (dalam bahasa Arab : abid, jamaknya ibaad) dengan Allah SWT sebagai dzat yang diibadahi (dalam bahasa Arab : ma’buud).  Allah SWT sebagai pembuat syariat (dalam bahasa Arab : musyarri’) telah menurunkan hukum-hukum yang sangat rinci tentang ibadah. Kita dapat merujuk pada berbagai kitab fiqih yang membahas masalah-masalah ibadah seperti sholat, zakat, shaum, haji, dan lain-lain.  Inilah yang disebut ibadah secara khusus.

Sedangkan secara umum, ibadah  adalah taat kepada segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.  Artinya tatkala seorang muslim mencari nafkah demi ketaatannya melaksanakan kewajiban yang Allah fardhukan kepadanya menafkahi anak istrinya (lihat QS. Al Baqarah 233) hakikatnya dia sedang beribadah.  Juga, tatkala seorang muslim berdagang dengan jujur, tidak menipu harga, serta tidak menipu mutu barang,  dan ia berdagang dengan visi saling tukar barang/uang dengan saling ridla dan menjauhi memakan harta manusia dengan cara bathil (lihat QS. An Nisa 29 dan berbagai hadits tentang jual beli), pada hakikatnya dia sedang beribadah.  Seorang pejabat muslim yang adil, tidak tergoda pada suap dan iming-iming demi keuntungan pihak-pihak  tertentu yang menyeretnya kepada segala macam bentuk KKN sehingga melalaikan hak masyarakat umum, maka pada hakikatnya  pejabat itu sedang beribadah kepada Allah SWT.

Shaum dalam konteks ibadah secara spesifik memiliki target tertentu, karakteristik tertentu, dan pengaruh tertentu bagi kehidupan seorang muslim.

Target yang mesti dicanangkan saat niat melaksanakan shaum dan hendaknya disadari sepanjang siang dalam melaksanakan ibadah shaum adalah : berharap dengan shaum atau puasa yang dijalankannnya itu dia memiliki kemampuan membentengi diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT, seperti berdusta, bersaksi palsu, berzina, berjudi, meminum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengambil riba, korupsi, bersekongkol dengan pihak asing menguasai aset negara dan menyengsarakan rakyat, dan lain sebagainya. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(QS. Al Baqarah 183).

Sebagaimana ibadah-ibadah khusus yang lain, shaum memiliki karakteristik tertentu, yaitu: Pertama, ibadah shaum bersifat tauqifiyah alias diterima apa adanya dari Allah SWT melaui Al Quran dan As Sunnah.  Shaum wajib sebulan penuh itu hanya di bulan Ramadhan.  Dikerjakan hanya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.  Tidak diam “ngebleng’  di suatu tempat, tapi sambil shaum seorang muslim tetap melaksanakan aktivitas hidupnya secara normal dan lain sebagainya yang merupakan ketentuan dari-Nya.

Kedua, adanya kewajiban shaum tanpa ada illat atau sebab disyariatkannya shaum.  Tapi hanya sekedar perintah Allah (lihat QS. Al Baqarah 183,185).     Sekalipun ada hadits yang menyebut hubungan shaum dengan kesehatan, tapi kewajiban shaum bukanlah lantaran demi menyehatkan tubuh manusia atau sebab lain.

Ketiga,  shaum dilaksanakan hanya untuk Allah SWT semata, tidak untuk yang lain (lihat QS. Al Kahfi 110).  Dalam hadits Qudsi Nabi bersabda: Allah SWT berfirman:

وَ الصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا اَجْزِي بِهِ

“Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”(HR. Tirmidzi) .

Keempat, shaum diterima hanyalah manakala dikerjakan hanya dengan ikhlas lilahi ta’ala.  Shaum yang dilaksanakan tidak dengan niat ikhlas lilahi ta’ala tidak dihitung ibadah.  Nabi saw. bersabda:

«اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ»

“Sesungguhnya amal-amalan tergantung dengan niat”.

Juga, hadits yang diriwayatkan dari Hafshah ra. Bahwa Nabi saw bersabda :

« مَنْ لَمْ يَبِيْتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِياَمَ لَهُ»

“Siapa saja yang tidak menyertakan niat puasa di malam harinya, maka tidak ada puasa baginya”.

Kelima, shaum adalah ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara.  Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT.  Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT.

Keenam, ibadah shaum itu mudah dilaksanakan.  Allah tidak memerintahkan kepada hamba-Nya sesuatu yang tak mampu dilaksanakan.  Sebagaimana hukum-hukum ibadah lainnya, dalam pelaksanaan shaum ada rukshoh untuk tidak melaksanakannya bagi orang-orang dengan kondisi-kondisi tertentu.  Seorang yang sakit atau bepergian dibolehkan untuk berbuka, sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah 184).

Dari ayat di atas juga dapat kita mengerti bahwa orang-orang yang sudah udzur karena tua sekali atau sakit yang tiada harapan sembuh untuk tidak melaksanakan shaum dan menggantinya dengan membayar fidyah, yakni memberikan makanan kepada fakir miskin sebanyak satu gantang (mud) sehari.  Dan bagi orang yang bepergian menempuh jarak safar secara syar’I (yaitu 4 barid = 80km), manakala perjalanannya mudah sebaiknya tetap puasa, dan sebaliknya manakala perjalanannya susah, sebaiknya dia berbuka.

Pembangkit Kesadaran Hubungan Kita dengan Allah SWT

Ibadah shaum sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, apabila dikerjakan dengan ikhlas dan benar, insyaallah akan memberikan bekas pada diri pelakunya.  Seorang muslim yang terlatih dengan shaum akan memiliki sifat lebih sabar, lebih jujur, dan lebih menjaga kesucian dirinya (iffah).

Untuk memahami lebih dalam dari efektivitas ibadah shaum pada kepribadian seorang muslim, maka perlu kita telaah kembali karakter kelima shaum, yakni ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara.  Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT.  Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT.

Kesadaran hubungan langsung “online” dengan Allah SWT ini serta kesadaran bahwa dia adalah hamba Allah SWT  yang wajib senantiasa taat kepada-Nya inilah yang akan membuat seorang muslim bisa mengendalikan dirinya.

Saat berpuasa seorang muslim melakukan “imsak”, yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami-istri, dan segala perkara yang membatalkannya.   Makan, minum, berhubungan suami-istri di malam bulan Ramadhan diperbolehkan (lihat QS. Al Baqarah 187), juga di siang-malam bulan-bulan yang lain.  Namun di saat shaum, seorang muslim menahan diri dari perkara itu hanya karena Allah.  Dalam Hadits Qudsi riwayat Abu Harairah r.a. bahwa Nabi bersabda: Allah SWT berfirman:

فَاِنَّهُ لِيْ وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ اَجْلِيْ

“Sesungguhnya dia (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya.  Dia (anak Adam) meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku” (HR. Muslim).

Bilamana perkara yang asalnya halal saja bisa ditinggalkan oleh seorang muslim lantaran ketaatannya kepada Allah, apalagi perkara yang asalnya memang diharamkan oleh Allah SWT.

Shaum sebagai ibadah khusus yang bisa dijalankan bersamaan dengan aktivitas-aktivitas lainnya –tidak seperti sholat atau manasik haji yang memerlukan waktu dan tempat yang khusus serta konsentrasi khusus–    shaum pada hakikatnya justru membangkitkan dan memelihara kesadaran hubungan kita dengan Allah SWT.  Saat hendak minum atau makan di siang hari bulan Ramadhan, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah pasti mengawasi kita,  dan bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan shaum kita.  Saat hendak melakukan suatu bentuk maksiat, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah SWT pasti mengawasi kita, bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan pahala puasa kita dengan pelanggaran kepada hukum Allah SWT itu.  Shaum melatih kita untuk menyadari apa hakikat dan akibat suatu perbuatan yang akan kita lakukan.  Kata pepatah: “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”.

Saum melatih kita untuk senantiasa menyadari dan merasakan firman Allah SWT:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hadid 4).

Khatimah

Dan kesadaran itu akan mengendalikan diri seorang muslim agar senantiasa berjalan di rel syariah yang benar.  Di dalam sebuah hadits Nabi saw. menyatakan:

َلا يَزْنِي الزَّانِيُ حِيْنَ يَزْنِيُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يُسْرِقُ حِيْنَ يُسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيْهَا أَبْصَارَهُمْ حِيْنَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Seorang pezina tidak akan berzina, jika saat berzina ia dalam keadaan mukmin, tidaklah seseorang akan meminum khamer jika saat meminumnya ia dalam keadaan mukmin, tidaklah seseorang akan mencuri jika saat mencuri itu ia dalam keadaan mukmin, dan tidaklah seseorang akan merampas sesuatu yang menyenangkan pandangannya jika saat merampas itu ia dalam keadaan mukmin” (HR. Bukhari)

Semoga shaum kita menghasilkan kesadaran dengan hubungan kepada Allah SWT setiap saat.  Amin, Yaa mujiibas Saailiin!

Mau Sukses…yo klik

BERANI DAN PERCAYA DIRI

Iman yang benar dalam dada seorang muslim akan menghasilkan keteguhan dan keberanian yang luar biasa.  Sebab, seorang muslim, setelah mengetahui dan memahami firman Allah SWT :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.”(QS. At Taubah 51).

Dia akan beriman bahwa apa yang ditetapkan oleh Allah SWT niscaya akan menimpanya, yang baik maupun yang buruk.  Sehingga dia akan menceburkan diri dalam medan kehidupan bahkan medan perang sekalipun dengan penuh keberanian.  Dia tidak gentar pada apapun dan siapapun, selain kepada Allah SWT.  Terlebih lagi jika seorang muslim mengerti dan memahami sabda Rasulullah saw:

(( لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ أَجَلَهَا وَرِزْقَهَا وَمَا قُدِرَ لَهَا ))

“Tidaklah mati seseorang sampai dipenuhi ajalnya, rizki, dan apa yang ditakdirkan baginya”.

Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya tentang Surat At Taubah ayat 51 tersebut sebagai berikut: dikatakan bahwa ketetapan Allah SWT itu ada di Lauhul Mahfuzh.  Juga dikatakan bahwa apa yang Allah kabarkan kepada kita ada di dalam ketetapan-Nya (Lauhul Mahfuzh) , baik itu kita bakal mendapatkan kemenangan, dan kemenangan itu baik buat kita, maupun kita bakal terbunuh, dan mati syahid itu jauh lebih baik bagi kita. Pada segala sesuatu pasti ada ketentuan Allah. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelasakan bahwa dalam ayat ini Allah SWT memberi petunjuk tentang cara menjawab pernyataan musuh-musuh kaum muslimin.  Katakanlah kepada mereka: “Tidak akan menimpa kepada kami kecuali apa yang Allah tetapkan buat kami.  Kami di bawah kehendak dan ketentuan Allah.  Dialah pemimpin dan pelindung kami.  Dan kami pasrah diri kepada-Nya.  Cukuplah Dia menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik    pelindung”.

Keyakinan tentang takdir Allah SWT dan kedekatan seorang muslim dengan Rabb-nya akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi sikap tegar dan berani mengahadapi segala tantangan hidup.  Secara kolektif, kaum muslimin adalah kaum yang tegar menghadapi gertakan dan ancaman lawan.  Allah SWT mengabadikan sifat mereka dalam firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”(QS. Ali Imran 173).

Gertakan dan intimidasi manusia malah menambah keimanan kaum muslimin, yaitu semakin yakin dan membenarkan Islam, agama yang mereka peluk, semakin yakin akan datangnya pertolongan Allah kepada mereka, dan semakin menambah kekuatan, keberanian, dan kesiapan mereka dalam perjuangan di jalan Allah.   Iman itulah yang memberikan kekuatan spiritual (al quwwah ar ruhiyah) kepada kaum muslimin sehingga berani mengahapi lawan betapapun besarnya pasukan musuh.  Ketika kaum muslimin di Madinah dikepung pasukan sekutu dalam perang Ahzab, mereka tegar menghadapi serbuan dan kepungan itu dan telah mempersiapkannya dengan membuat pertahanan parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah, khususnya di bagian utara yang datar.  Allah SWT menggambarkan ketegaran mereka dalam firman-Nya:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu (pasukan Ahzab) , mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan”.(QS. Al Ahzab 22).

Keimanan itulah yang membuat 3000 pasukan kaum muslimin berani menghadapi 200 ribu pasukan gabungan Rumawi di Mu’tah.  Jelas sekali sifat keberanian itu dalam ucapan Abdullah bin Rawahah, salah seorang panglima perang kaum muslimin dalam perang Mu’tah itu: “Wahai kaum muslimin, sesungguhnya yang hendak kalian hindari justru adalah mencari syahadah (mati syahid), kita tidak memerangi manusia dengan jumlah personil, juga tidak memerangi mereka dengan kekuatan dan banyaknya pasukan yang kita miliki, kita tidak memerangi mereka melainkan dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita.  Maka berangkatlah, sesungguhnya hasil dari perang ini hanyalah satu di antara dua kebaikan.  Menang atau mati syahid!” (lihat Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Juz III/428).

Jelas bahwa keberanian yang muncul dalam diri pasukan kaum muslimin, sekalipun harus menanggung resiko kematian, merupakan bekas dari keimanan mereka.  Kuatnya keyakinan serta lurusnya sikap hidup dan motivasi diri mereka menghasilkan keberanian yang luar biasa.  Mereka berperang bukan untuk menzalimi, membunuh, dan memusnahkan manusia. Bukan pula untuk merampas harta kekayaan dan tanah air bangsa lain serta memperbudak mereka.   Tetapi mereka berperang untuk  menjaga kemuliaan agama Allah SWT, Tuhan seluruh umat manusia.  Mereka berperang untuk melindungi keberlangsungan dakwah Rasulullah saw., rasul untuk seluruh umat manusia, rahmat bagi seluruh alam.    Dan mereka faham sekali bahwa perjuangan suci itu tidak pernah rugi.  Maka wajarlah dari hati mereka tumbuh sifat perwira dan berani.

Keyakinan akan kemuliaan dan keluhuran Islam itulah yang membuat Rasulullah saw. memiliki keberanian dan rasa percaya diri untuk menulis surat dan mengirim utusan kepada penguasa Rumawi, Kisra, dan penguasa dunia lainnya, mengajak mereka masuk ke dalam kemuliaan Islam.  Lihatlah surat Rasulullah saw. kepada Heraklius, penguasa Rumawi: “Bismillahirrahmanirrahiim.  Dari Muhammad hamba Allah dan rasul-Nya kepada Heraklius, pembesar Rumawi.  Semoga keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk (hidayah), amma ba’du.  Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan islam, masuk Islamlah.  Engkau akan selamat.  Allah akan memberikan kepadamu dua pahala.  Namun jika engkau menolak, maka engkau harus menanggung dosa rakyatmu (orang-orang yarisyiyin).  Wahai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”(HR.Bukhari).

Sebelum terjadinya pertempuran dalam perang Qadisiyah tiga orang utusan kaum muslimin bertemu dengan Panglima Rustum, Panglima negara Persia.  Rustum bertanya kepada mereka: “Apa yang membuat kalian datang ke sini?”  Utusan kaum muslimin itu menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja –yang ingin—dari perbudakan manusia agar menghamba kepada Allah Yang Esa, dan dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dan daripada penyimpangan semua agama (din) kepada keadilan Islam.  Maka Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa din-Nya, kepada seluruh makhluq-Nya.  Maka siapa saja yang menerima din ini dari kami, akan kami terima dirinya dan kami akan kembali daripadanya, dan kami akan meninggalkan dia dengan tanah airnya.  Akan tetapi, siapa yang menolak akan kami perangi sampai kami masuk surga atau mendapat kemenangan”.

Dengan kejelasan visi dan misi hidup itulah kaum muslimin memiliki sifat keberanian  menghadapi segala macam bangsa demi menyampaikan Islam kepada mereka.   Keberanian mereka tidak dalam kerangka anarkis, tapi senantiasa disertai kesadaran hukum dan moralitas yang tinggi.  Diriwayatkan bahwa dalam perang Khandaq (Ahzab) ada seornag jagoan Quraisy menantang duel kepada pasukan kaum muslimin.  Ali minta izin Rasulullah saw. untuk melayani.  Beliau mencegahnya seraya berkata: “Duduklah kamu sebaba orang itu adalah Amru bin Abdud”. Setelah meminta izin tiga kali barulah Rasulullah saw. mengizinkan Ali berduel melawan Amru.  Setelah melihat yang datang Ali, Amru mengatakan: “Datangkan seorang yang lebih tua, aku tak tega menumpahkan darahmu”.  Tapi Ali menjawab: “Sebaliknya aku tega menumpahkan darahmu”.   Mendengar itu Amru turun dari kudanya dan langsung memukulkan pedangnya ke Ali hingga memecahkan perisainya dan ia terluka di kepala.  Ali membalas pukulan dengan pedangnya hingga Amru mati terbelah.  Kaum muslimin pun bertakbir.  Setelah itu Ali menghadap Rasulullah saw. Saat itu Umar bertanya: “Mengapa baju besinya tidak anda rampas, baju besinya bagus sekali?”.    Ali menjawab: “Ketika Amru kupukul, auratnya terbuka sehingga aku malu melihatnya dan aku malu merampasnya”. (lihat Al Bidayah wan Nihayah, Juz 4/106).  Dalam perang Uhud Rasulullah saw. pernah memberikan pedang beliau kepada Abu Dujanah dengan pesan agar  digunakan sesuai dengan haknya.  Maka Abu Dujanah menggunakan pedang itu untuk menghantam setiap musuh di hadapannya.  Pedang itulah yang merobohkan seorang Quraisy yang suka mencincang kaum muslimin.  Dan pedang itulah yang hampir membabat kepala Hindun bin Utbah, istri Abu Sufyan.  Sabetan pedang itu diurungkan oleh Abu Dujanah setelah diketahui bahwa sasarannya adalah wanita” (Al Bidayah, Juz 4/16).

Kekuatan iman, keberanian, disiplin, dan moralitas yang tinggilah yang membuat pasukan kaum muslimin menjadi terkenal sebagai pasukan tak terkalahkan. Kaisar Heraclius yang merasa keheranan pasukannya yang besar dipukul mundur oleh kaum muslimin bertanya kepada para pembesarnya: “Celakalah kalian, kabarkanlah kepadaku tentang mereka (kaum muslimin) yang memerangi kalian itu, bukankah mereka itu manusia seperti kalian?  Mereka menjawab: Benar.  Kaisar berkata lagi: Mana yang lebih banyak, jumlah kalian ataukan jumlah mereka?  Mereka menjawab: Jumlah kami lebih banyak di seluruh medan tempur.  Lalu Kaisar bertanya: Lalu bagaimana kalian bisa kalah?  Maka seorang tua dari kalangan pembesar mereka menjawab: Karena sesungguhnya mereka (pasukan Islam) itu mengerjakan sholat di waktu malam, berpuasa di siang hari, dan mereka menepati janji, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan saling membagi di antara mereka (tidak saling mementingkan diri).  Sedangkan kita kalah karena sesungguhnya kita gemar minum minuman keras,  berzina, melakukan yang haram, melanggar janji, gampang marah, zalim, memerintah dengan kekerasan (represif), mencegah dari apa yang Allah ridlai serta berbuat kerusakan di muka bumi.  Maka Kaisar pun berkata: “Engkau membuatku percaya—bahwa kita memang pantas untuk kalah” (lihat Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam, hal 44).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Kaisar Heraklius pernah bertanya kepada salah seorang prajurit Rumawi yang pernah ditawan oleh kaum muslimin:  “Ceritakanlah padaku tentang mereka (pasukan Islam)”  Maka prajurit itu menjawab: “Diwaktu siang mereka adalah pasukan berkuda yang hebat, dan di malam hari mereka menjadi pendeta.  Mereka tidak pernah makan dari orang-orang tanggungan mereka (kafir dzimmi) melainkan dengan membayar.  Mereka tidak memasuki suatu daerah kecuali dengan membawa kesejahteraan, mereka selalu berdiri dengan mantap menghadapi siapa saja yang memerangi mereka sampai mereka datang di hadapan orang itu”.  Maka Kaisar berkata: “Sesungguhnya engkau telah meyakinkan aku bahwa mereka akan merebut dan menguasai tempat berpijak dua telapak kakiku”.

Dengan meneladani sifat keberanian dan percaya diri kaum muslimin terdahulu itulah kaum muslimin hari ini akan menang!

SMP Pasundan Materi: Masalah Penduduk Indonesia

KEADAAN SOSIAL WILAYAH INDONESIA

Tujuan Pembelajaran :

Siswa mampu menjelaskan unsur-unsur sosial wilayah                            Indonesia.

Permasalahan Penduduk Indonesia, Dampaknya dan Upaya Mengatasinya.

Permasalahan Penduduk Indonesia

  1. Jumlah Penduduk yang Besar
  2. Pertumbuhan Penduduk yang cepat
  3. Persebaran penduduk yang tidak merata
  4. Kepadatan penduduk yang tidak merata
  5. Kesenjangan antara jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja
  6. Rendahnya pendidikan para pekerja
  7. Rendahnya taraf pendidikan bangsa Indonesia
  8. Rendahnya mutu kesehatan
  9. Bencana Alam
  10. Perumahan yang layak Pendapatan perkapita yang rendah
  11. Pendapatan perkapita yang rendah

Dampak Berbagai Permasalahan Penduduk Indonesia

1. Jumlah Penduduk yang Besar

Jumlah penduduk yang banyak bisa menguntungkan sebagai sumber daya manusia untuk pembangunan, dan akan merugikan dari segi anggaran karena dibutuhkan jumlah keuangan yang besar untuk melayani segala kebutuhan .

2.Pertumbuhan Penduduk yang cepat

Pertumbuhan penduduk yang cepat jika tidak seimbang dengan pertumbuhan produksi maka akan mengakibatkanpenurunan taraf hidup seperti :

  1. Terjadinya pengangguran
  2. Munculnya tindakan kriminalitas
  3. Rendahnya mutu pendidikan
  4. Rendahnya mutu kesehatan
  5. Kesulitan perekonomian pangan
  6. Persebaran penduduk yang tidak merata

3. Kepadatan penduduk yang tidak merata

Akan mengakibatkan hal sebagai berikut :

    1. Kekurangan sumber tenaga kerja
    2. Kesulitan upaya memlihara kebersihan, keindaha, dan ketertiban seperti dikota besar
    3. Harga tanah yang mahal
    4. Kesulitan tempat tinggal yang layak
  1. Kesenjangan antara jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja

Kesenjangan antara jumlah angkatan kerja dengan lapangan kerja  yang cukup jauh akan mengakibatkan pengangguran.

Rendahnya pendidikan para pekerja

Semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja maka akan semakin tinggi tingkat       produktivitas kerjanya.

4. Rendahnya taraf pendidikan bangsa Indonesia

Rendahnya pendidikan akan mengakibatkan ketertinggalan kemajuan     pembangunan ekonomi.

5. Rendahnya mutu kesehatan

Tingkat kesehatan yang rendah akan mengakibatkan :

    1. Produktivitas kerja rendah
    2. Tingkat kematian tinggi
    3. Tingginya kan kelahiran
    4. Usia harapan hidup rendah
    5. Munculnya berbagai macam penyakit

6. Bencana Alam

Bencana alam sebagian besar disebabkan oleh manusia.

7. Perumahan yang layak Pendapatan perkapita yang rendah

Perumahan yang layak meliputi standar kesehatan dan di Indonesia banyak        penduduk yang belum layak perumahannya.

TUGAS

–         Kerjakan dibuku dan

–         Selanjutnya Tugas dikerjakan pada kertas selembar dan dikumpulkan

  1. Jelaskan Akibat dari bencana alam
  2. Bagaimanakah kriteria perumahan yang layak menurut kalian?
  3. Sebutkan dampak dari pendapatan perkapita rendah!
  4. Menurut hasil penagalaman kehidupan kalian, bagaimanakah kondisi sosial ekonomi saat ini, dan bagaimana kondisi sosial ekonomi kalian saat ini!
  5. Sebutkan berbagai macam maslah sosial ekonomi yang terjadi dilingkungan kalian.!

Mohon untuk tertib dan silahkan kalian berdiskusi dengan teman sebangku…

Rancaekek,    Agustus 2009

Guru Mapel

@sep Totoh, SE

Tahukah kalian..tamu yang kita tunggu dan akan dating adalah IIS ( Iman, Ikhlas dan Sabar…ketika kita puasa hari ini apakah ketiganya sudah kita miliki?………………….

Konflik Sosial

Konflik berasal dari kata kerja latin Configere yang berarti saling memukul, secara sosiologis, Konflik diartikan sebagai suatu proses sosial anatara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau menyingkirkannya.

Konflik menurut kamus besar bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai perceckcokan, perselisihan, dan pertentangan. Menurut kartono & Gulo (1987) konflik berarti ketidaksepakatan dalam suatu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain. Jadi bentuk interaksi sosial disosiatif mulai dari persaingan, pertentangan, kontravensi, pertikaian dan sebagai pencapaian tujuan akhir melakauakn tindakan fisik ataupun nonfisik.

Contoh sederhana supporter Persib mengamuk karena kalah main dari Persija, hal ini ditandai karena adanya ketidakpuasan dari apa yang diinginkan akhirnya melakukan tindakan penyerangan dan pengrusakan apapun yang mereka temukan. Bentuk pertentangan bisa dikatakan konflik jika pertentangan itu bersifat langsung. Selain itu juga pertentangan dilakukan atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan.

Konflik dilatarbelakangi oleh perubahan cirri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut cirri fisik, kepandaian, pengetahuan, adapt istiadat, keyakinan dan sebagainya. Ketika masyarakat itu ada maka akan selalu terjadi konflik, sehingga konflik akan hilang bersamaan dengan hilangnya konflik itu sendiri.

Suatu konflik terjadi akibat :

  1. Perbedaan Pendapat
  2. Salah paham
  3. Ada pihak yang dirugikan
  4. Perasaan sensitive
  5. Tujuan yang tidak tercapai

Faktor penyebab Konflik

  1. Perbedaan individu
  2. Perbedaan latar belakang kebudayaa
  3. Perbedaan kepentingan anatara individu atau kelompok
  4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak adalam masyarakat.

Bentuk Konflik sosial:

  1. Konflik tujuan
  2. Konflik peranan
  3. Konflik nilai
  4. Konflik kebiajakan

Proses Konflik

  1. Oposisi atau ketidakcocokan potensial;
  2. Kognisi dan personalisasi
  3. Maksud
  4. Perilaku
  5. Hasil

Pengelolaan Konflik

  1. Bentuk Kalah Kalah (Menghindari konflik)
  2. Bentuk Menang Kalah (Persaingan)
  3. Bentuk Kalah Menang (Mengakomodasi)
  4. Bentuk Menang Menang (Kolaborasi)

Pendapat alain menurut Hendircks (2001) adalah :

  1. Integrating (menyatukan,menggabungkan)
  2. Obliging (saling membantu)
  3. Dominating (menguasai)
  4. Avoiding (menghindar)
  5. Compromising (kompromi)

Khusus Siswakoe di Alam Maya

Walau hati tak sebening XL..& secerah Mentari,sadar suka buat Fren kecewa dan benci.. dengan penuh Simpati saya minta maaf yang settulusnya bagi kalian semua..Asal saya Axis dan ibadah kita tidak e esia-sia kita bisa pilih 3 tujuan manusia Hidup kita berasal dari mana? hidup kita untuk apa? dan Setelah hidup mau kemana?