Ilmu Pengetahuan Sosial By Asep Totoh,SE

Kahatur sadaya siswa SMP Pasundan & SMK Bakti Nusantara 666…Kita Pasti Bisa

Hakikat Shaum

Menguak Hakikat Shaum

Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita telah memasuki bulan Ramadhan.  Alhamdulillah kita diberi kesempatan oleh Allah SWT kembali beribadah di bulan penuh berkah ini.  Sudah sepantasnya kita bersyukur dengan mengoptimalkan ibadah selama sebulan penuh, baik shaum Ramadhan sebagai ibadah utama, maupun qiyamul lail dan ibadah lainnya sebagai penunjang.

Namun sayang seribu kali sayang, tidak jarang kesempatan emas ini melayang.  Tidak sedikit di antara kita yang lengah hingga tak mampu memetik banyak pahala dan kebajikan di bulan panen pahala ini.  Tidak sedikit di antara kita yang berada di garis minimal, tinggal melaksanakan puasa dan sholat tarawih saja.  Bahkan tidak sedikit di antara kita yang berada di titik nol, yakni puasa dan tarawih pun sia-sia.  Rasulullah saw. pernah mensinyalir orang-orang seperti itu dalam sabdanya:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ اِلاَّ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

“Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus”.

Na’udzu billahi min dzalik!

Tentu kita tidak ingin ditinggal bulan Ramadhan tahun ini dalam keadaan papa dan rugi sama sekali.

Lalu bagaimana agar shaum kita berhasil mengantarkan kita kepada target, yakni menjadi orang yang bertaqwa?  Bagaimana agar shaum kita bernas dan bermutu?  Maka satu langkah awal yang perlu kita tempuh adalah menyadari dan memahami hakikat shaum?

Hakikat Shaum sebagai bagian dari Ibadah

Islam mengajarkan kepada kita bahwa tiadalah tujuan Allah Sang Pencipta ini menciptakan kita selain agar kita beribadah hanya kepada-Nya.  Dia SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Ad Dzariyat 56).

Ibadah secara bahasa artinya taat. Dalam konteks hukum syariat Islam, ibadah adalah  aktivitas hubungan manusia sebagai hamba (dalam bahasa Arab : abid, jamaknya ibaad) dengan Allah SWT sebagai dzat yang diibadahi (dalam bahasa Arab : ma’buud).  Allah SWT sebagai pembuat syariat (dalam bahasa Arab : musyarri’) telah menurunkan hukum-hukum yang sangat rinci tentang ibadah. Kita dapat merujuk pada berbagai kitab fiqih yang membahas masalah-masalah ibadah seperti sholat, zakat, shaum, haji, dan lain-lain.  Inilah yang disebut ibadah secara khusus.

Sedangkan secara umum, ibadah  adalah taat kepada segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.  Artinya tatkala seorang muslim mencari nafkah demi ketaatannya melaksanakan kewajiban yang Allah fardhukan kepadanya menafkahi anak istrinya (lihat QS. Al Baqarah 233) hakikatnya dia sedang beribadah.  Juga, tatkala seorang muslim berdagang dengan jujur, tidak menipu harga, serta tidak menipu mutu barang,  dan ia berdagang dengan visi saling tukar barang/uang dengan saling ridla dan menjauhi memakan harta manusia dengan cara bathil (lihat QS. An Nisa 29 dan berbagai hadits tentang jual beli), pada hakikatnya dia sedang beribadah.  Seorang pejabat muslim yang adil, tidak tergoda pada suap dan iming-iming demi keuntungan pihak-pihak  tertentu yang menyeretnya kepada segala macam bentuk KKN sehingga melalaikan hak masyarakat umum, maka pada hakikatnya  pejabat itu sedang beribadah kepada Allah SWT.

Shaum dalam konteks ibadah secara spesifik memiliki target tertentu, karakteristik tertentu, dan pengaruh tertentu bagi kehidupan seorang muslim.

Target yang mesti dicanangkan saat niat melaksanakan shaum dan hendaknya disadari sepanjang siang dalam melaksanakan ibadah shaum adalah : berharap dengan shaum atau puasa yang dijalankannnya itu dia memiliki kemampuan membentengi diri dari perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT, seperti berdusta, bersaksi palsu, berzina, berjudi, meminum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, mengambil riba, korupsi, bersekongkol dengan pihak asing menguasai aset negara dan menyengsarakan rakyat, dan lain sebagainya. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(QS. Al Baqarah 183).

Sebagaimana ibadah-ibadah khusus yang lain, shaum memiliki karakteristik tertentu, yaitu: Pertama, ibadah shaum bersifat tauqifiyah alias diterima apa adanya dari Allah SWT melaui Al Quran dan As Sunnah.  Shaum wajib sebulan penuh itu hanya di bulan Ramadhan.  Dikerjakan hanya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.  Tidak diam “ngebleng’  di suatu tempat, tapi sambil shaum seorang muslim tetap melaksanakan aktivitas hidupnya secara normal dan lain sebagainya yang merupakan ketentuan dari-Nya.

Kedua, adanya kewajiban shaum tanpa ada illat atau sebab disyariatkannya shaum.  Tapi hanya sekedar perintah Allah (lihat QS. Al Baqarah 183,185).     Sekalipun ada hadits yang menyebut hubungan shaum dengan kesehatan, tapi kewajiban shaum bukanlah lantaran demi menyehatkan tubuh manusia atau sebab lain.

Ketiga,  shaum dilaksanakan hanya untuk Allah SWT semata, tidak untuk yang lain (lihat QS. Al Kahfi 110).  Dalam hadits Qudsi Nabi bersabda: Allah SWT berfirman:

وَ الصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا اَجْزِي بِهِ

“Shaum itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya”(HR. Tirmidzi) .

Keempat, shaum diterima hanyalah manakala dikerjakan hanya dengan ikhlas lilahi ta’ala.  Shaum yang dilaksanakan tidak dengan niat ikhlas lilahi ta’ala tidak dihitung ibadah.  Nabi saw. bersabda:

«اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ»

“Sesungguhnya amal-amalan tergantung dengan niat”.

Juga, hadits yang diriwayatkan dari Hafshah ra. Bahwa Nabi saw bersabda :

« مَنْ لَمْ يَبِيْتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِياَمَ لَهُ»

“Siapa saja yang tidak menyertakan niat puasa di malam harinya, maka tidak ada puasa baginya”.

Kelima, shaum adalah ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara.  Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT.  Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT.

Keenam, ibadah shaum itu mudah dilaksanakan.  Allah tidak memerintahkan kepada hamba-Nya sesuatu yang tak mampu dilaksanakan.  Sebagaimana hukum-hukum ibadah lainnya, dalam pelaksanaan shaum ada rukshoh untuk tidak melaksanakannya bagi orang-orang dengan kondisi-kondisi tertentu.  Seorang yang sakit atau bepergian dibolehkan untuk berbuka, sebagaimana firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah 184).

Dari ayat di atas juga dapat kita mengerti bahwa orang-orang yang sudah udzur karena tua sekali atau sakit yang tiada harapan sembuh untuk tidak melaksanakan shaum dan menggantinya dengan membayar fidyah, yakni memberikan makanan kepada fakir miskin sebanyak satu gantang (mud) sehari.  Dan bagi orang yang bepergian menempuh jarak safar secara syar’I (yaitu 4 barid = 80km), manakala perjalanannya mudah sebaiknya tetap puasa, dan sebaliknya manakala perjalanannya susah, sebaiknya dia berbuka.

Pembangkit Kesadaran Hubungan Kita dengan Allah SWT

Ibadah shaum sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, apabila dikerjakan dengan ikhlas dan benar, insyaallah akan memberikan bekas pada diri pelakunya.  Seorang muslim yang terlatih dengan shaum akan memiliki sifat lebih sabar, lebih jujur, dan lebih menjaga kesucian dirinya (iffah).

Untuk memahami lebih dalam dari efektivitas ibadah shaum pada kepribadian seorang muslim, maka perlu kita telaah kembali karakter kelima shaum, yakni ibadah yang langsung kepada Allah, tanpa perantara.  Ketika seorang muslim berlapar-lapar dalam melaksanakan shaum, laparnya itu langsung dihubungkan dan diniatkan untuk Allah SWT.  Dengan rasa lapar dan haus itulah dia sedang “online” dengan Allah SWT.

Kesadaran hubungan langsung “online” dengan Allah SWT ini serta kesadaran bahwa dia adalah hamba Allah SWT  yang wajib senantiasa taat kepada-Nya inilah yang akan membuat seorang muslim bisa mengendalikan dirinya.

Saat berpuasa seorang muslim melakukan “imsak”, yakni menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami-istri, dan segala perkara yang membatalkannya.   Makan, minum, berhubungan suami-istri di malam bulan Ramadhan diperbolehkan (lihat QS. Al Baqarah 187), juga di siang-malam bulan-bulan yang lain.  Namun di saat shaum, seorang muslim menahan diri dari perkara itu hanya karena Allah.  Dalam Hadits Qudsi riwayat Abu Harairah r.a. bahwa Nabi bersabda: Allah SWT berfirman:

فَاِنَّهُ لِيْ وَاَنَا اَجْزِيْ بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ اَجْلِيْ

“Sesungguhnya dia (puasa) itu untuk-Ku, dan Aku akan membalasnya.  Dia (anak Adam) meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku” (HR. Muslim).

Bilamana perkara yang asalnya halal saja bisa ditinggalkan oleh seorang muslim lantaran ketaatannya kepada Allah, apalagi perkara yang asalnya memang diharamkan oleh Allah SWT.

Shaum sebagai ibadah khusus yang bisa dijalankan bersamaan dengan aktivitas-aktivitas lainnya –tidak seperti sholat atau manasik haji yang memerlukan waktu dan tempat yang khusus serta konsentrasi khusus–    shaum pada hakikatnya justru membangkitkan dan memelihara kesadaran hubungan kita dengan Allah SWT.  Saat hendak minum atau makan di siang hari bulan Ramadhan, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah pasti mengawasi kita,  dan bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan shaum kita.  Saat hendak melakukan suatu bentuk maksiat, kita sadar bahwa kita sedang shaum, bahwa Allah SWT pasti mengawasi kita, bahwa Allah pasti mengetahui bahwa kita sendiri yang membatalkan pahala puasa kita dengan pelanggaran kepada hukum Allah SWT itu.  Shaum melatih kita untuk menyadari apa hakikat dan akibat suatu perbuatan yang akan kita lakukan.  Kata pepatah: “Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna”.

Saum melatih kita untuk senantiasa menyadari dan merasakan firman Allah SWT:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Hadid 4).

Khatimah

Dan kesadaran itu akan mengendalikan diri seorang muslim agar senantiasa berjalan di rel syariah yang benar.  Di dalam sebuah hadits Nabi saw. menyatakan:

َلا يَزْنِي الزَّانِيُ حِيْنَ يَزْنِيُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يُسْرِقُ حِيْنَ يُسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ , وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيْهَا أَبْصَارَهُمْ حِيْنَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Seorang pezina tidak akan berzina, jika saat berzina ia dalam keadaan mukmin, tidaklah seseorang akan meminum khamer jika saat meminumnya ia dalam keadaan mukmin, tidaklah seseorang akan mencuri jika saat mencuri itu ia dalam keadaan mukmin, dan tidaklah seseorang akan merampas sesuatu yang menyenangkan pandangannya jika saat merampas itu ia dalam keadaan mukmin” (HR. Bukhari)

Semoga shaum kita menghasilkan kesadaran dengan hubungan kepada Allah SWT setiap saat.  Amin, Yaa mujiibas Saailiin!

%d blogger menyukai ini: